• M-CHIP
  • PBS
02 April 2019
THE PRESIDENT, Menggapai Indonesia Adil & Makmur (Prabowo Dimata Penulis)

Muhamad Murodin bukanlah penulis terkenal, hanya seseorang yang hobi menulis sejak putus sekolah tingkat atas. Hobi menulis menjadi wadah tuangan pikiran yang ada didalam benak tentang sebuah imajinasi yang terangkai menjadi sebuah tulisan. Pada kesempatan ini, penulis ingin menggoreskan ketikan telpon pintar bututnya untuk sebuah kekaguman terhadap tokoh nasional bangsa Indonesia yang saat ini menjadi salah satu kandidat RI1. Beliau adalah Letjen (Purn) H. Prabowo Subianto.

Mengenal nama prabowo dengan cara mendengar namanya saja adalah ketika Partai Golkar melakukan konvensi capres. Disitulah pertama kali penulis mengenal dan mendengar nama mantan Danjen Koppassus tersebut. Partai Golkar menjadi perahu pertama bagi sang jendral menapaki dunia politik sebagai bakal calon presiden, namun tekadnya menjadi capres dari Partai Golkar akhirnya pupus setelah pemenang hasil konvensi capres tersebut adalah mantan atasannya di kesatuan ABRI.

Nama Prabowo Subianto menjadi sosok dan tokoh yang mulai saat itu penulis gemari. Dari tahun ke tahun semakin penasaran akan sosok mantan menantu Jendral Besar Soeharto tersebut. Hyper fanatiknya adalah ketika Pemilu tahun 2009 yang mana adalah pemilu kedua yang dilakukan ataupun dipilih oleh rakyat, Prabowo saat itu didapuk menjadi calon wakil presiden yang berpasangan dengan calon presiden incumbent saat itu yakni Ibu Megawati Soekarno Putri yang tidak lain adalah salah satu anak dari Presiden pertama Indonesia. Kiprah Prabowo yang saat itu berduet dengan Ibu Megawati menjadi Hyper Fans bagi penulis. Meski tahun 2004 saat itu penulis tidak memiliki hak untuk memilih lantaran sebab dari kurangnya usia yang menurut undang-undang pemilu adalah 17 tahun keatas. 2009 dimana penulis baru saja menginjakkan kaki pendidikan di MA (setara SLTA) di sebuah desa diujung Kab. Serang.

Meski masih usia belia, penulis acap kali ikut serta "nimbrung" di warung kopi ketika libur yang senantiasa menjadi tempat obrolan politik saat itu. Fanatisme terhadap sosok jendral bintang tiga tersebut penulis dapatkan dari berbagai media seperti stiker, poster, spanduk dan selebaran. Sosok pada gambar media tersebut penulis abadikan dalam sebuah buku tulis lusuh bak kliving berita dari koran. Namun, ketika menimba ilmu di pesantren buku itu hilang entah kemana. Namun kecintaan penulis terhadap sosok Prabowo Subianto tak pudar hingga detik ini.

Gagal menjadi wapres pada kontestasi pilpres medio 2009 akhirnya Pak Prabowo menekadkan diri membawa partai besutannya menjadi partai 3 Besar pada pemilu berikutnya. 2014 akhirnya Partai Gerindra menjadi partai ketiga peraih kursi terbanyak di parlemen nasional. Hal itu menjadikan Prabowo mampu meyakinkan kawan politik untuk dijadikan sebuah koalisi sehingga mampu menjadi capres berpasangan dengan Hatta Rajasa dari PAN. Lagi, Jendral kalah secara terhormat dari kompatitornya dalam kontestasi pilpres 2014.

Niat bulat utama ingin mengabdi lebih jauh terhadap ibu pertiwi tidak menyurutkan semangat Pak Prabowo untuk terus membuktikan diri bahwa beliau mampu menangani negeri kepulauan ini. 2019 tahun politik, tahun dimana Pileg dan Pilpres diselenggarakan bersamaan dan tahun ini, Jendral tidak berjuang sendiri. Jendral tidak berjuang hanya dengan koalisi, tetapi jendral berjuang bersama rakyat yang menghendaki perubahan tatanan pemerintahan pusat.

Prabowo menjadi capres lagi dan melawan calon yang sama pada 2014 silam. Namun kekuatan utama yang kini melekat dalam diri Prabowo bukanlah Mine Power Prabowo sendiri, melainkan Mass Power yang berjuang bersama untuk mengantar Prabowo ke puncak kepemimpinan Ibu Pertiwi. Sejak Prabowo menyatakam diri siap menjadi capres kembali, sejak saat itulah bermunculan nama pendamping yang ingin menemani perjuangan Prabowo. Dari nama AHY (Komandan Kogasma PD), ABW (Gubernur DKI Jakarta, Aher (Mantan Gubernur Jabar) hingha sebuah keutusan Ijtima' Ulama yang menyodorkan nama UAS (Pendakwah) dan Habib Salim Segaf Al-Jufrie (Mantan Mensos & Ulama Politisi PKS) semua menjadi kandidat pasangan Prabowo untuk Pilpres 2019 ini. Bahakan ummat sempat berharap UAS (Ustadz Abdul Somad) dipilih menjadi cawapres untuk Prabowo. Mengingat elektabilitas UAS yang saat itu digandrungi umat oleh sebab isi ceramah yang elegan dan mudah tersampaikan menjadi alasan ummat agar Prabowo mematuhi hasil ijtima' ulama dengan memilih salah satu nama yang disodorkan oleh hasil tersebut.

Prabowo diambang kebingungan saat itu, namun dikarenakan beloau adalah mantan tentara militer, raut bingung tersebut tak nampak dari wajah beliau. Hingga pada akhir "injury time" pendaftaran pasangan Bacapres & Bacawapres akan segera berakhir, Prabowo menetapkan Sandiaga Salahudin Uno (Wagub DKI Jakarta) yang namanya tidak sama sekali menjadi elektoral point namun ditetapkan menjadi pendampingnya untuk meraih "kunci istana".

Prabowo Cerdas, ketika ummat menginginkan pemimpin yang bernotebene ulama demi keselarasan antar umat beragama akhirnya Prabowo tolak demi sebuah persatuan karena lawan kompetisinya sudah terlebih dahulu mengangkat Kiyai Sepuh dari Serang Banten menjadi wakilnya. Andai, andai saja Prabowo memilih satu diantara UAS dan Habib Salim, bukan tidak mungkin ummat islam justeru akan terpecah belah. Kecerdasan mantan Pangkostrad tidak berhenti begitu saja, pilihannya yang menyasar kepada Sandi Uno justru membuat electoral effect yang luar biasa bagi Prabowo Subianto.

Sandiaga Uno yang seorang pengusaha tampan nan masih enerjik menjadikan sasaran milenial electoral menjadi milik pasangan 02 saat ini. Hal itu terbukti dengan dipilihnya Sandi Uno,  anak-anak muda mampu bersatu menjadi relawan bagi kemenangan Prabowo-Sandi.

 Prabowo Hebat, strategi apa yg entah beliau gunakan untuk kompetisi saat ini. Lambat laun, kehebatan beliau nampak ke permukaan kampanye. Selain rakyat yang menginginkan #2019GantiPresiden sosok Prabowo yang kini semakin dikenal massa adalah salah satu faktor High Electoral disetiap kampanye. Sosok Prabowo Subianto mungkin jarang nampak dilayar kaca perihal keberhasilan beliau dalam mengabdi kepada Ibu Pertiwi. Namun sejarah timta emas tidak bisa dihilangkan dengan jutaan liter susu murni. Prabowo, beliau mantan tentara. Prabowo, beliau berjuang membesarkan Pencak Silat. Prabowo, beliau dengan " diam" membantu rakyat tanpa pamrih. Prabowo, beliau setia terhadap NKRI darah tanah airnya sendiri.

Sosok Prabowo boleh saja menjadi kontroversi bagi lawan politiknya, namun beliau adalah sosok humanis, beliau adalah sosok humoris, beliau adalah sosok pemimpin yang kita tunggu selama ini.

Prabowo, Indonesia memanggilmu untuk mengabdi demi keadilan dan kesejahteraan rakyat yang merata.

Prabowo, kami datang disetiap kampanye mu semata memberikan energi agar kau mampu memapah amanah rakyat.

Prabowo, ku pinjam pundakmu untuk ku taruh Harga Diri Ibu Pertiwi.

Prabowo, kamilah pendukung sejatimu.

Prabowo, hanya satu pinta kami saat kau menjadi The President. Amanahlah kepada kami rakyat, bangsa dan negaramu.

Prabowo, kau patriot yang sesungguhnya.

Cikande 02 April 2019 menuju Kemenangan Prabowo-Sandi 17 April 2019.

0 Komentar

Kontak Kami

logo-m-chip.jpg
  • Telepon : +6288211596542
  • Email : sahabat@murodininfo.com
  • Alamat : Jl. Cikande Koper KM.2 No.19 Dahu Timur RT.005 RW.08 Parigi Cikande Serang Banten 42186

Pencarian

Berita Populer

Social Media

Statistik